RSU Kota Tarakan dan Puskesmas Siap Menjadi Wahana Program Internsip Dokter Indonesia

Mengikuti jejak pendahulunya sebagai wahana program internsip dokter seperti RSUD dr. Jusuf SK, Puskesmas Karang Rejo dan Puskesmas Gunung Lingkas, kini, RSU Kota Tarakan, Puskesmas Juata dan Puskesmas Mamburungan siap menjadi wahana implementasi, pemandirian dan pemahiran bagi dokter peserta internsip. Sebelum ditetapkan sebagai wahana, PIDI Pusat terlebih dahulu melakukan visitasi dan penilaian, yang telah dilaksanakan pada 16-18 Juni 2022.

Visitasi dan penilaian dilakukan melalui presentasi profil unit kerja pengusul, sosialisasi program internsip oleh perwakilan PIDI Pusat kemudian dilakukan hospital tour dan puskesmas tour untuk melihat kelayakan setiap ruang/poli yang akan menjadi wahana praktik dokter internsip.

Sejak tahun 2020, melalui Dinas Kesehatan, RSU Kota Tarakan, Puskesmas Mamburungan dan Puskesmas Juata telah diusulkan untuk menjadi wahana dokter internsip. Langkah ini diambil Dinas Kesehatan untuk menjawab kebutuhan tenaga medis dokter di rumah sakit maupun puskesmas yang masih mengalami kekurangan. Program ini juga merupakan bagian dari pendayagunaan tenaga kesehatan yang dijalankan secara nasional oleh Ditjen Nakes Kementerian Kesehatan. Dinas Kesehatan mengajukan secara berjenjang ke Dinkes Provinsi Kaltara selaku KIDI Tingkat Provinsi surat permohonan, data dukung dokumen persyaratan serta usulan calon dokter pendamping wahana pada setiap unit wahana.

Pada Mei 2022 akhirnya permohonan usulan yang diajukan mendapatkan respon dan terjadwal untuk divisitasi dan dinilai pada Juni 2022 oleh Sekretariat PIDI Pusat dan 1 orang perwakilan PIDI Pusat yang berasal dari unsur Asosiasi Perguruan Tinggi Kedokteran Indonesia.

Selain memaparkan angka-angka capaian kinerja RSU Kota Tarakan, Direktur RSU Kota Tarakan bersama dengan Kepala Bidang Pelayanan juga menyampaikan fasilitas yang akan diberikan oleh setiap dokter internsip yang memilih RSU Kota Tarakan sebagai wahana stase. Diantaranya yaitu rumah dinas, kendaraan dan insentif/jasa medis. Hal ini diberikan mengingat peserta internsip merupakan dokter yang telah memiliki kompetensi penuh dan bisa memberikan pelayanan kepada pasien dengan pendampingan dari dokter pendamping serta komite medik rumah sakit.

Secara bergantian 2 pimpinan puskesmas juga memaparkan kondisi geografis dan demografis wilayah kerja puskesmas, capaian layanan dan kinerja serta jenis layanan yang sudah berjalan di Puskesmas Juata dan Puskesmas Mamburungan. Penyampaian jenis layanan pada puskesmas sangat penting agar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh setiap dokter internsip sebagai peserta program.

Hasil paparan masing-masing unit kerja pengusul kemudian menjadi dasar bagi tim penilai dalam melihat dan menilai borang penilaian yang telah diisi oleh pimpinan unit kerja. Pada penilaian ini, PIDI Pusat menugaskan Dr. dr. Iwan Afhiani, Sp.F., M.Kes, SH menjadi tim penilai, mengobservasi unit layanan, sekaligus mensosialisasikan pelaksanaan program internsip dokter kepada Dinas Kesehatan, pimpinan calon wahana, dokter calon pendamping, serta komite medik, sebelum ditetapkan sebagai Wahana Program Internsip Dokter Indonesia yang bisa menjadi pilihan bagi setiap lulusan pendidikan profesi dokter.

Iwan Afhiani dalam penyampaian materi PIDI, mengharapkan bahwa dokter yang mengikuti program internsip dapat menyeleraskan hasil pendidikan yang telah diperoleh dengan apa yang terjadi di fasilitas kesehatan dan di masyarakat. Dokter merupakan ujung tombak utama dan terdepan dalam pelayanan kesehatan. Program internsip bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan peran dokter dalam pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, rehabilitatif/kuratif hingga penanggulangan bencana wabah. Penilaian kinerja dan keberhasilan dokter peserta internsip secara terukur dinilai melalui pengisian logbook secara online, kegiatan ilmiah medik, hingga presentasi kasus dan pembuatan mini proyek di puskesmas. Unit kerja yang ditetapkan sebagai wahana internsip juga wajib menunjuk dokter pendamping yang kemudian akan dilatih sebelum melakukan pendampingan. Dokter pendamping yang ditunjuk diharapkan menjadi role model bagi setiap peserta isip dalam menjalankan praktik kedokteran secara profesional dengan sikap altruistik.

Setelah pemaparan profil calon unit wahana dan sosialisasi program, observasi dan penilaian kemudian dilanjutkan dengan hospital tour dan puskesmas tour. Direktur RSU Kota Tarakan dan Kepala Puskesmas mendampingi secara langsung tim penilai dalam melihat kondisi, kelayakan fasilitas, sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki masing-masing unit kerja, termasuk penerapan digitalisasi layanan serta ketersediaan jaringan internet yang bisa mendukung pelaporan kegiatan serta pengisian log-book yang wajib diisi oleh setiap dokter peserta internsip.

Proses penilaian ditutup dengan penyerahan borang dan data dukung yang menjadi aspek penilaian. Harapan terbesar dari proses yang sudah dijalankan ini adalah ditetapkannya RSU Kota Tarakan, Puskesmas Juata dan Puskesmas Mamburungan sebagai wahana Program Internsip Dokter Indonesia. Sehingga seluruh Puskesmas di Tarakan telah dan bisa menjadi pilihan bagi dokter yang akan mengikuti program internsip.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.